Empunya Ketenangan...

Tuesday, May 15, 2012

Sesungguhnya Allah telah redha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (Surah Al Fath: 18)
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan tentera yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang paling tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Surah At Taubah: 40)
Dua kisah tersebut terdapat padanya satu elemen yang selalu diucap manusia. "Balik kampung, cuti, cari ketenangan." "Tenang sikit kerja dah siap." "Dia takde baru tenang rasanya."

Kisah yang pertama berkisar mengenai baita'ur ridwan. Rasulullah SAW dan para sahabat dalam perjalanan ke kota Mekah untuk mengerjakan haji buat pertama kalinya. Namun sebelum memasuki kota Mekah, Saidina Uthman RA diutuskan bagi membuat rundingan dan selama pemergian beliau, tersebar khabar angin bahawa beliau telah dibunuh. Maka para sahabat telah bersumpah setia (bai'ah) bagi memerangi musyrikin Mekah. Peristiwa baiah itu diredhai Allah seperti mana firmannya maka digelar sebagai Bai'atur ridwan. Tidak terhenti dengan imbalan redha Allah, mereka yang jumlahnya dikatakan kurang lebih 1500 itu diberikan sesuatu yang lain - ketenangan.

Di dalam kisah yang kedua, kisah epik persahabatan sejati, Sang Kekasih Yang Terpilih diburu musyrikin Mekah, lalu beliau lari hingga tiba ke sebuah gua, bertemankan rakannya Yang Benar. Tatkala hati gusar takut ditemui musuh, lalu bersabda sang Kekasih kepada sahabatnya- Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita." Imbalan yang juga datang sesudah itu - ketenangan.

Dulu sewaktu  belajar, diimpikan kerja yang elok, duit untuk dibelanja dan menyara diri. Kini semua telah diperolehi. Tapi waktu belajar yang dahulunya pernah berkongsi makanan, duit yang selalu tiada di tangan, duduk di bilik sahaja tanpa hiburan - selalu aku rasakan ketenangan.

Kini walaupun dunia terhampar di hadapan, rasa perit kerap muncul entah dari benua mana datangnya. Kini aku tahu signifikan kedua ayat yang tersebut di atas. Walau memiliki dunia dan sekalian isinya, memiliki ketenangan itu belum pasti.

Dari kisah gua disebut "maka Allah menurunkan ketenanganNya." Dinisbahkan ketenangan itu dengan pemiliknya. Justeru jika mahu ketenangan, pinta pada empunya ketenangan itu. Ku mohon Ya Rabb.


0 comments :

Hakcipta terpelihara - Noor. Powered by Blogger.