Saidina Umar RA - Kami berhenti, kami berhenti (انتهينا، انتهينا)

Saturday, December 31, 2011

0 comments
Arak...apa kedudukan sebenar arak. Lalu Saidina Umar berdoa, "Allahumma jelaskan kepada kami (pada perkara) arak, dengan penjelasan yang menenangkan." Kemudian turun ayat
Mereka bertanyakan kepadamu (Muhammad) tentang arak dan judi. Katakanlah, 'Pada keduanya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, namun dosa keduanya melampaui kebaikan keduanya...
(Surah Al-Baqarah: 219)
Maka sesudah itu, pada satu ketika, seorang sahabat bersolat di dalam keadaan mabuk, lalu tersilap membaca Surah Al-Kafirun tanpa menyebut "la" (لا), yang menyebabkan bacaannya berbunyi, "Wahai orang-orang kafir, kami menyembah apa yang kamu sembah" (sepatutnya tidak kami sembah apa yang kamu sembah).

Saidina Umar kemudian mengulangi doanya lagi "Allahumma jelaskan kepada kami (pada perkara) arak, dengan penjelasan yang menenangkan," kemudian turun ayat
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati solat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sehinggalah kamu sedar apa yang kamu katakan...
(Surah An Nisa': 43)
Adapun sesudah itu, setiap kali tiba solat, yang memanggil untuk mengerjakan solat akan mengumumkan , "Jangan menghampiri solat, sekalian yang mabuk."

Saidina Umar R.A terus berdoa lagi "Allahumma jelaskan kepada kami (pada perkara) arak, dengan penjelasan yang menenangkan.." Kemudian dari itu
Wahai orang-orang yang beriman! Bahawa sesungguhnya arak, dan judi, dan pemujaan berhala, dan menilik nasib dengan batang-batang anak panah, adalah  kotor dari perbuatan Syaitan. maka jauhilah ia mudah-mudahan kamu berjaya. Sesungguhnya Syaitan itu hanyalah bermaksud mahu menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan sebab arak dan judi, dan mahu memalingkan kamu daripada mengingati Allah dan daripada mengerjakan sembahyang. Oleh itu, tidakkah kamu mahu berhenti? (Surah Al-Maidah: 90-91) 
 Saidina Umar menjawab, "Kami berhenti, kami berhenti." انتهينا، انتهينا

(Rujukan: Tafsir At-Tobari, pada ayat 219, Surah Al-Baqarah)

Legal Mix Up

Friday, December 23, 2011

0 comments
When u fall down, stand up - restitutio in integrum

When u cause your own pain, dont cry - volenti non fit injuria

When u care for others, do with good heart - bona fide

Whenever u lend your hand, seek nothing in return - pro bono

When something dissatisfies you, listen - audi alteram partem

If you pray to God, have faith - uberrimae fidei

Can you think that you are good? u cant - nemo debet ese judex in propria causa

Don't blame others if you are no angel - ex turpi causa non oritur actio

If what u search is going no where, stop - nolle prosequi

Insincerity is evil by itself - mala in se

When u make a promise, fulfill it - pacta sunt servanda

Remember that God promise good rewards for good deeds - quid pro quo

Whenever u make a choice, leave it to God and spell no regret - res judicata

If u fail in what you do, try re-do - de novo

Doing good to others doesn't compel others to do the same to you - non sequitur

When you are to consider, ponder upon it properly - curia advisari vult

Dr Said Bouheraoua

Tuesday, December 20, 2011

2 comments
He is my lecturer. An Algerian by nationality (he has the look of Zinadine Zidane), he is an unusual Arab. His wit is seldom to be found on someone of his scholarly stature. I was told that he is a footballer, playing in Kuala Lumpur League (Liga KL). He speaks fluent English. He uses simple arabic in his class.

His Wits
It was a small class, the first time I joined his lecture. For those who come late, they must recite poem, be it in any language. So one of my friend had once recited "dua tiga kucing berlari." We couldn't  help ourselves from having a good laugh at our friend, as much as Dr Said was asking what are the meaning of those words to share the joy of laughing.

In one afternoon tutorial class, I found myself a bit dull (it was a class immediate after me waking up from a good nap). He suddenly asked me:
Him: اعطيني خمسة فرق بيني وبينك (Give me 5 differences between you and me).
Me (last answer): انت تلعب كرة قدم احسن مني (You play football better than me).
He responded: !!هذا الأصح (This is the most correct!!). 
He then asked me whether I play football, I answered "no". He remarked "ahhh...it's like comparing Ronaldinho with orang kampung".

In one of the class when we studied Uruf (custom / adat), a chapter in Usul Fiqh, the air conditioner stopped. It happened usually since the air conditioner was programmed to shut down every hour. He then said, "since the air conditioning stops everytime in this class, going by uruf (custom / adat) the nearest to the switch must turn it on."

On another occasion, my friends and I went to see him during the early days when we got our job. We met him to convey the good news. He welcomed us with greetings, hugging and mentioning each of our name. "Azhar," then he hugged, "Muhammad Noor," then he hugged. There was one who did not study under him, he said "You...., I don't know you," then he hugged...

He had once spoken of going back to Algeria, so I did ask about his plan of returning back then. He told me "The university already employed my wife to teach here, so now the plan is like being thrown down from level sixteen."

His Scholarship
He taught me Usul Fiqh (Islamic Jurisprudence), Fiqh Al-Muqarran (can be read Muqarin too - Contemporary Fiqh) and Asbab Al-Ikhtilaf (Reasons behind the differences in legal rulings). He memorizes Quran. He taught us as if the subjects are simple. His explanation reflects his vast knowledge in the subject. He cherishes differences in legal opinions. We often hear people speak of Mazhab Zahiri (the literalist) in a mocking tone. However, he explained to us the richness of the Zahiris School and one of its leading propounder, Imam Ibn Hazm Al-Andalusi Az-Zahiri. He takes differences with arms wide open and it makes me to be like him too, the one who is tolerating differences.

One day, in the midst of discussing hadiths,  he spoke of Abdullah Ibn Umar, Radiallahu Anhuma. He said Ibn Umar is one of the most strict companion, who tried to do and imitate whatever he saw the Prohet had done. In one occasion, Ibn Umar lowered his head while walking, and those who were with him gave him an odd look. When Ibn Umar was asked why he lowered his head, Ibn Umar told that he saw The Prophet did that when He passed that area...the reason being, there was a shady tree, perhaps the Prophet lowered his head so He would not bum unto the tree. But Ibn Umar did because of another reason. After the Prophet demised, the tree did grow and it wasn't shady anymore, Ibn Umar still ducked down...not to avoid any tree but because he saw the prophet did that. Out of sudden, Dr Said couldn't hold his tears and the class ended. We were stunned. I am deeply touched by that incident. We must love the prophet, and our teacher had shown good example for us to follow.

Another side of him
I had once seen him when a trouble befell upon me. He said things which I couldn't accept. I took it and I left. The matter was then referred to someone else who is known as expert in the area. He asked me to come back after two days. Surprisingly after two days ,the expert told me the exact things Dr Said had told me earlier. I wish if only I could write more detail on this.

On one night of Ramadhan, while curiously seeing an amazing young boy, Aslam, he saw me and he approached his student (while it should be the other way around), he said nice words to Aslam's father about me. I pray may his doa come true. His humbleness is something I admire.

He is not always wearing his light personality robe, at times, even after making some jokes, he heartlessly said to his student "You must study hard or you will FAIL...FAIL!!!!."

.....don't know what to state.....
I hope Fadilat Al-ustaz will always be in good health. I cant repay him for what he had taught and the kindness he had shown. I will always remember him and pray for him and his family. Perhaps when we leave, we would meet again beside haudh of the beloved Prophet.

Sincerely,
Noor

Satu Tahun

0 comments
Dalam masa beberapa hari lagi, 2011 akan berlalu..
Azam tahun ini ada yang tak tercapai lagi
Bab jodoh, malas nak pasang azam
Kata orang jodoh takkan datang bergolek
Jadinya kalau tak cari, tak payahlah beria azam nak kahwin.

Bila kata pada orang yang kita tengah mencari
Orang kerap sangka kita begitu terdesak sekali
Memang aku memilih, sebab itu  ianya tak mudah
Dan tak semua yang kita suka, dia nak juga pada kita
Mungkin ada, cuma belum masanya.

Sejak dilahirkan, manusia bergerak menuju kematian
Mati itu pasti, syurga juga pasti, neraka jua pasti
Namun hati kerap lupa dan jauh
Iman bertambah dan berkurang, kini kerap berkurang
Ku mohon dipelihara iman ini, agar aku bahagia di sana nanti
(cukup kiranya andai aku tak sempat berbahagia di sini)

Sebelum tiada kelak

Friday, December 16, 2011

0 comments
Kewujudan seseorang itu selalunya hanya terasa apabila beliau sudah tiada. Kalau baik orangnya, akan dikenang segala kebaikannya, jika yang sebaliknya mungkin yang lain akan menghela nafas lega.

Bagi yang baik, sekecil-kecil budi cukup untuk dikenang orang, bak pantun orang dulu-dulu:
Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik dikenang juga.
Barangkali ungkapan berima orang Melayu datang dari kefahamannya terhadap kalam Yang Esa
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami tuliskan segala yang telah mereka kerjakan serta segala kesan-kesan mereka (dari perkataan dan perbuatan yang mereka tinggalkan). Dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu kami catitkan satu persatu dalam Kitab (ibu Suratan) yang jelas nyata. (Surah Ya Sin: 12)
Sementelah masih ada, ucapkan semuanya selagi mahu, lakukan apa yang perlu. Usah kelak dah tiada dikenang-kenang, diungkit-ungkit namanya dan di "kalaulah dia ada". Sederap melangkah ke alam yang satu lagi, tidak akan kembali. Itu terjamin dengan pasti.





I Am Holier Than Thou - Aku Rasa Macam Bagus

Wednesday, December 7, 2011

0 comments
Terkadang dengan sedikit yang ada pada kita, membuak rasa hebat yang menjulang diri begitu tinggi. Sayup memandang mereka yang lain, jauh di bawah. Hanya kerana kelebihan yang dikurnia Ilahi, kita katakan yang lain tidak sebagus kita.

Dengan sedikit yang membuat kita tahu, kita gelarkan orang lain jahil. Dengan sedikit amalan agama kita tunaikan, kita katakan yang lain jahat. Dengan sedikit hadis yang kita hafal, kita kata masyarakat bergelumang dengan bid'ah. Dengan sedikit bacaan nukilan ilmuwan, kita bersedia menyanggah pandangan orang lama. Dengan sedikit harta yang kita ada, kita kata yang lain malas berusaha. Dengan sedikit pangkat yang kita ada, kita kebulur sembahan orang bawahan. Dan begitulah seterusnya


Pada Merasa Lebih Mengetahui
Renungkan teguran kepada Saidina Musa A.S, tatkala baginda ditanya oleh kaumnya berkenaan siapakah yang paling mengetahui. Baginda menjawab beliaulah yang paling mengetahui, lalu diingatkan Allah akan wujudnya Nabi Khidr A.S. (adapun Imam Bukhari mensyarahkan Nabi Khidir lebih mengetahui pada apa yang diajarkan kepadanya tetapi tidak diajar kepada Nabi Musa, bukan bermaksud Nabi Khidir merupakan orang yang paling mengetahui). Kisah selanjutnya dinukilkan di dalam Surah Al-Kahfi (tidak berhasrat mengulangi di sini).


Pada Merasa Diri "Lebih Dekat" Kepada Ilahi
"Dan bacakanlah kepada mereka (wahai Muhammad), khabar berita seorang yang kami beri kepadanya (pengetahuan mengenai) ayat-ayat (Kitab) Kami. kemudian ia menjadikan dirinya terkeluar dari mematuhinya, lalu ia diikuti oleh Syaitan (dengan godaannya), maka menjadilah dari orang-orang yang sesat." (Surah Al-A'raf: 174)
Ulama tafsir, di antaranya Imam Tobari menyebut bahawa ayat di atas berkenaan seorang yang makbul doanya, yang hidup sezaman dengan Nabi Musa A.S. Diriwayatkan namanya Bal'am Bin Baura. Sesudah Nabi Musa dan Bani Israil berjaya menyeberangi laut merah, mereka tiba di satu negeri. Takutkan kepada Nabi Musa dan mereka yang bersama baginda, penduduk negeri tersebut meminta Bal'am berdoa. Sesudah dipujuk rayu dengan sogokan isteri yang rupawan, Bal'am berdoa, menyebabkan Nabi Musa dan mereka yang bersama baginda sesat, hilang arah di dalam perjalanan. Begitu hebat doa Bal'am. Namun berakhir hayatnya dengan hina seperti yang disifatkan Allah-
Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tetapi ia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya: ia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir. (Surah Al-A'raf: 176)

Pada Merasa Lebih Kaya Kerana Keras Berusaha
Demikian juga hartawan si Qarun yang juga hidup di zaman Nabi Musa. Beliau memiliki gedung-gedung menyimpan harta. Pekerja-pekerja yang ramai diperlukan bukan sahaja untuk memindah harta miliknya, malah untuk membawa kunci-kunci gedung tersebut (kunci sahaja pun dah banyak). Namun akhirnya beliau ditimbus seperti dikisahkan di dalam Surah Al-Qasas ayat 81.

Pada Mengecapi Nikmat Berpangkat
Misalan mengenai orang berpangkat yang paling hebat tidak lain dan tidak bukan Firaun. Beliau mengaku "Akulah Tuhan kamu sekalian yang maha tinggi". Beliau ditenggelamkan di dasar laut merah dan dikekalkan jasadnya sehingga ke hari ini, sebagai tanda penentang tuhan yang masyhur di dalam sejarah.

Adapun takabbur dan rasa bongkak itu pakaian Allah, haram dipakai oleh hamba-hambanya. Zahirkan rasa syukur atas sedikit yang kita ada. Jangan kita lupa, tanpa pengangkut sampah, tukang bersih, tukang paip, huru hara hidup kita. 

Dikongsi di sini pesanan yang baik, dari peribadi yang baik.


Journey to the east

Monday, December 5, 2011

0 comments
THE STORY OF KUCHING

The Keys I left
1. On 20th of November 2011 (Sunday) - I went to Kuching on official duty. At KLIA, during the security check, I left my car key and door keys. I was messed up. Luckily the next day when I called the Airport, they told me the keys are safe. fuhhh

Dinner at Rock Road, Kuching
2. Later in evening, I attended a dinner at Rock Road, Kuching. As usual, it had not disappointed the guest who came far far away across the sea. Nipah Crab in Hainan Sauce, butter prawn, sayur midin (Sarawak Vege)..Argh typing these menu makes me drooling. 

The Spirit of the Tiger
3. On 21st November 2011 (Monday), after a tiring official schedule, I went to Barok, across the river, from my hotel Grand Magherita. Just need to pay 50cent and the sampan will bring you across the river, where good local foods can be found. After a sumptuous dining, my friend and I rushed to the Mc Donald across the hotel, hoping to see Harimau Muda in action and the adrenaline rush cannot be described for the worry of the Harimau Muda, being an endangered species on foreign land of ruhtless Garuda. Unfortunate for us, the unpatriotic Mc Donald only subscribed to EPL channels. We then literally running back to my friend room to watch the awaited game. After many heart stopping moments, we join the rest of our fellow Malaysians, cheering the victory of our young warriors and indeed, we are proud of you Harimau Muda.

Leaving Kuching (isk isk isk)
4. On 22nd November (Tuesday), I managed to take tour at the shops located near the waterfront. It was an amazing view, to see such a beautiful place with many high quality craft. I bought pua kumbu cloth and two crafted tablecloth. I hang the pua kumbu at my living room, so I will always remember the beauty of the Land of Hornbills and the kindness of the people there. I am indeed fond of Sarawak. I am fascinated with the languange and I do learn it hard.

5. Later in the evening, at 8.50PM, I left Kuching for Kota Kinabalu.

THE JOURNEY CONTINUES : KOTA KINABALU
sunset in Kota Kinabalu (from Imperial Boutec Hotel)

6. I reached Negeri Di Bawah Bayu around 10.30PM. It was like 12.00AM in semenanjung.

Another nice dinner
7. The following day, on 23rd November (Wednesday), after a tiring day, there was a dinner. I had lobster for the first time in my life, cooked in peanut butter sauce. It was a good dinner and it was better than the one I had in Kuching (though both are good and far over par). 

Spectacular and rare event
8. On 24th November (Thursday), there was one native case set for hearing. Early in the morning the natives gathered in front of the Court and at the very last minute, they were allowed to enter the Court room. They even sat on the floor. Their leader was consulted and we managed to get things in order. Out of respect to these people, Kota Kinabalu Court had even provided big screen, with live telecast of the proceeding to those who cannot enter the Court room. In the evening , I went to Filipino market to find good foods for dinner. Then I take a look at the infamous pearls of Sabah. It was a good sight-seeing place to wander around.

The seafood
9. I bought a kilogram of Udang Kuning ( dunno the official name) which is at RM30++ and a kilogram of tiger prawn which is RM50++. They are huge (L size) and my family wasn't disappointed to see these huge prawn indulged in creamy butter sauce for dinner when I cooked it later at my home, Tapah.
This costs RM240 (I did not buy it, just a snap of pic)
The Seafood Angel. (Her mom told me she is still single)

O Ye Who Miss The Flight
10. On 25th of November (Friday), I went back home. A friend of mine missed his flight and another staff also missed her flight. But they managed to fly back, as my friend bought new ticket at his own expense while my staff paid penalty and luck was with her when she could aboard on the next day. Once I reached KLIA, i collected the keys from security office.

Beautiful Beach of Tanjung Aru

Conclusion
11. It was a tiresome week of journey. Nevertheless, I really enjoyed it and perhaps with Allah's grace, I will visit the east again (especially Kuching). Mun ada rezeki, kelak dapat gik kamek berambeh ke Sarawak.

Til then, the beautiful land and nice people of the East.

Munajatku lagi...Part IV

Monday, November 14, 2011

1 comments

Berdoalah kepada Ku, nescaya aku kabulkan bagi kamu
(Surah Al- Mukmin: 60)
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, Selawat dan Salam ke atas Nabi junjungan, serta ahli keluarga dan sekalian sahabat Baginda sehingga ke hari pembalasan.

Allahumma,

Munajat hamba-Mu, semoga dikurniakan kepada mereka di kalangan kami cahaya mata, sebaik-baik fitnah sesudah isteri. Dengan iradah-Mu kami bersaudara, walau pernah aku rayu agar ia lenyap pergi. Kini aku merintih, semoga kedua mereka Engkau berkati dengan penyejuk mata dan hati, kebanggaan kekasih-Mu di hari kebangkitan nanti. Dengan berkat persaudaraan ini, ampunilah sekalian yang terdahulu dari dosa kami serta kabulkan hajat kami. Wahai Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Pemberi.

Allahumma, akhir doa kami dengan firman Mu-

Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang mempunyai keagungan dan kekuasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan salam sejahtera ke atas sekalian Rasul. Serta segala puji bagi Allah tuhan sarwa sekalian alam
(Surah As-Saffat: 180-182)

Habib An-Najjar : Personaliti Syurga.

Sunday, October 30, 2011

1 comments
Dan (semasa utusan-utusan itu diancam), datanglah seorang lelaki dari hujung kota itu dengan berlari, lalu memberi nasihat dengan katanya:” Wahai kaumku! Turutlah utusan-utusan itu" (Surah Ya Sin: 20)
Pengenalan
1. Adapun nama peribadi itu tidak disebut di dalam Quran, tidak juga terdapat dari Hadith-hadith sahih. Namun dinukilkan oleh empunya Tafsir Ibn Kathir, dari Ibn Abbas bahawa nama pemuda itu Habib An-Najjar. Tafsir At-Tobari, Tafsir An-Nasafi juga Tafsir Jalallain turut menyatakan bahawa pemuda itu bernama Habib An-Najjar. Beliau juga diberi jolokan  صاحب يس (Jejaka Surah Yasin). Beliau dikatakan tinggal di Kota Antokiyah atau kini dikenali sebagai Antioch di Turki. Terdapat satu maqam yang dikatakan maqam beliau.

2. Kisahnya bermula apabila utusan-utusan Nabi Isa A.S tiba di kota Antioch, penduduk kota meragui status mereka sebagai utusan yang membawa mesej keesaan Tuhan. Utusan-utusan itu dikecam agar berhenti agar tidak mereka itu direjam dan disakiti. Tatkala situasi tegang tersebut berlaku, Quran menyebut telah datang seorang daripada hujung kota lalu mengingatkan kaumnya-
"Ikutilah utusan-utusan tersebut. Ikutilah mereka yang tidak mengharapkan balasan, sesungguhnya mereka itu diberi petunjuk." (Surah Ya Sin ; 20-21)
Lelaki tersebut dikatakan namanya Habib An-Najjar dan tindakan beliau itu telah menyebabkan beliau diseksa kaumnya sehingga menemui ajal.

3. Namun kisah Habib An-Najjar tidak berhenti di situ. Allah menceritakan perihal beliau sesudah nyawanya diambil dan kisah beliau dikurniakan nikmat syurga -
(Setelah ia mati) lalu dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam Syurga”. Beliau berkata, “Alangkah baiknya kalau kaumku mengetahui, -Tentang perkara yang menyebabkan daku diampunkan oleh Tuhanku, serta dijadikannya daku dari orang-orang yang dimuliakan”. (Surah Yasin: 26-27)
Renungan
1. Menjadi orang baik itu bukannya mudah. Label skema, kolot, tak urban (mengikut konteks sekarang) bukan perkara baharu yang berleluasa menghalang manusia dari berhijrah ke arah yang lebih baik. Mereka yang terdahulu kebiasaanya berakhir dengan penyiksaan dan kematian (contohnya Masyitah, Ashabul Ukhdud dan Summayyah). Setakat label-label, jangan rasa tertekan sangat.

2. Terima dengan baik pesanan mereka yang tidak mengharap balasan dalam memberi nasihat tersebut. Ianya pesanan yang baik dan mudah-mudahan yang memberi pesan itu orang yang diberi petunjuk. Begitu juga sebaliknya, jangan kita mengharap balasan dalam berbuat baik atau memberi nasihat kepada orang, semoga kita tergolong dari mereka yang diberi petunjuk.

3. Sebak membaca pesanan syurga. Beliau disuruh masuk ke dalam syurga lalu menyatakan betapa untungnya sekiranya orang lain tahu apa yang beliau dapat.

4. Sekiranya hanya kerana nama Habib An-Najjar itu menjadi isu oleh kerana tiada hadith sahih yang menyatakan hal tersebut, sila baca artikel ini dengan menggantikan Habib An-Najjar dengan Si Fulan. Equity looks into substance rather than form.

The Shining Windows & The Closed Door

Friday, October 21, 2011

1 comments
As yesterday's sun went down
I feel uneasy, plenty of things are no longer around
Used to feel blessed, often my feet couldn't feel the ground
In that small shining space, joy and happiness were found

Thereafter, life goes on, I move albeit it's heavy
I keep glancing back, it's too good to let it free
At the side-walk there are shining windows, which I choose not to see
I stare at the closed door, hoping it will open though it will never be

I stumble unto people and fall down while I am moving
They scold me not, but they lend their hand to help me standing
As I grasp their hands and look around, it makes me realizing
The side-walk is bright, cause of the windows, through it the sun is shining

Throughout yesterday's night, as the darkness embraced
I was lonesome, did lots of thinking, and tried to be brave
Then I find it's already dawn, to God I say grace
The sun rises again and this time far from the closed door, I move away.

"Di dalam rumah yang luas itu barangkali ada satu sahaja tingkap yang redup cahayanya... selainnya pintu dan tingkap yang gemilang dicucuri sinar mentari"
-4 Sep 2011-

Tonsil Operation : The chronicle

Sunday, October 2, 2011

1 comments
Tag when admitted for second time
Tag when I was admitted for the first time











Reffered to ENT unit, Putrajaya Hospital
I was referred to ENT unit of Putrajaya Hospital following the frequent fever and sore throat in December 2009. I got 1st appointment in March 2010. Then another appointment (consultation) and in august, I was to undergo the operation. When I was brought on the bed in the operation theater and they ran ECG and found there is bigeminy (irregular heart beat). The operation was called off and I was referred to Institut Jantung Negara for further check-up.

When your heart sings this rhythm, it's bigeminy (I guess, mine looked similar to this)
First Round, IJN
The first check up was with Dr Tuan, a cardiologist from Vietnam. After going through reports and test results, he said i am fit to undergo the tonsillectomy. He wrote a letter, certifying that I am fit. He also prescribes a medicine called "Sotalol". I also met Ah Azlan, a friend whom I had not seen for 13 years.

Back to Putrajaya Hospital
I went back to ENT and they gave me new date for operation and I was scheduled to see the anesthetist, the doctors who will give me anesthesia. The doctors found out that Sotalol was prescribed, a medicine unknown to them and unavailable at Putrajaya Hospital. They then asked me to go to IJN again to find out whether i really need Sotalol despite of my heart beats are now normal. The operation is now postponed again pending further check-up.

Second Visit, IJN
I had another visit to IJN. This time, They put holter on me for a day, a week before the visit. the device will monitor my heart beats for 24 hours. They result was brought for to be analyzed by the cardiologist, and this time, Dr Ma. He spoke fluent Malay and he took the pain of explaining the medical jargon to a layman like me. He got surprise that I was yet to undergo the operation since a clearance was given by previous cardiologist. I told him that the reason was "Sotalol", medicine unknown to them and unavailable in Putrajaya Hospital Pharmacy. He explained that the medicine is to give me "gas". I can proceed even without it. He took a radical move, to personally talked with the boss of the anesthetist through phone, explaining my condition. He also wrote a letter so there would be something for me to carry and show later.

Snapping my own pic in the toilet (too shy to ask nurses there to help)
Finale
I got another date, 21 of September 2011. This time, they will do something to the tonsil and also something they called CAPSULE. I was required to be warded on that day, and on 22nd, the operation. I was placed in Ward 3A, Bed no. 3. My neighbour was Dr Suradi, a psychology lecturer of  Universiti Malaya. Mak Su, Amarzaman and later, Shahir paid me visit. I went to bed early, hoping nothing wrong will happen the next day.

I.V 


On 22nd of September 2011 (Thursday), about 8.00am, I was in Theatre no 7. The doctors did some nice talking, asking me to recite salawat and I am lost. When i got up, I had this pain in my mouth. I spit bloods. That surely meant that they had done something to me. Alhamdulillah. At last. My thanks to Mrs Dr Hafiza, the ENT expert, Dr Azlina, the staff nurses, the UCSI nursing student who attended me. It was a pleasant days in ward 3A and thank you for embracing me, the new family member of ENT Putrajaya.

Post Operation
Mak Su was there when I opened my eyes. I was brought back to Ward 3A. Among the first conversation I had with Mak Su was that there was one phone call, from someone named Nik. I responded "o0o0o0o". They put saline into me through intravenous infusion (IV). In the afternoon, I got chicken porridge. I was too hungry. With everything in my mouth screaming indescribable pain, I finished the porridge. I was discharged the next day (Friday).

The bed
The Visit
Akob and his wife Nissa among the earliest to pay visit. Safar and colleagues from office also came. Pak Long, Mak Long, Syaqira, Ain and Kakak had also came. I am happy they come, especially when we had not seen each other for a very long time.

I am glad finally I had completed this long awaited operation. Hope this will solve my sleeping disorder and the snoring problem. I also wish that this pain will go as soon as possible. I want to have nasi lemak, steak and lamb chop.

Allahumma Ya Syaafi, Tuhan Yang Maha Menyembuh, sembuhkanlah diri ini.

*BTW, this is my post number 101.Huhu 

Di kala lemah...

Monday, September 12, 2011

0 comments
Segala pujian bagi Allah, tuhan sarwa sekalian alam. Sebaik-baik selawat dan setinggi-tinggi salam buat junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W, juga buat sekalian ahli keluarga Baginda dan seluruh sahabat-sahabat Baginda yang mulia.

Adapun sesudah itu,

Dalam meneruskan hidup di hari yang dikurniaNya ini, terasa kosong. Kosong sahaja tidaklah ia musibah tetapi bila kosong itu seakan berkehendakan ia untuk diisi. Dikebanyakan masa tidaklah sukar dibiarkan ia kosong, barangkali mungkin terasa kaya, seperti yang disabda Nabi "Sebaik-baik kaya ialah kaya jiwa." Tetapi semampu manusia selaku nakhoda hati,hati itu bukan miliknya untuk dikemudi, justeru doa Baginda SAW "Wahai Tuhan yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama dan ketaatan kepadaMu." Ada rasa yang kita cuba sembunyikan, meski kita tahu wujud rasanya di situ, lantas perlu kita ingat firmanNya "Sesungguhnya Dia mengetahui akan perihal yang di dalam dada (hati)."

Hari ini terasa kosong, dan sedikit pedih. Ku tinggalkan diri ini kepada belas dan rahmat Yang Esa. Ya Latif, ultuf bina..Wahai Tuhan Yang Maha berlembut, berlembutlah ke atas kami





Judges Conference 2011 & Yang Sewaktu Dengannya

Sunday, September 11, 2011

0 comments
Persidangan Hakim-hakim Malaysia bil 1/2011 telah berlangsung dari 7-9 September 2011.Persidangan yang mengambil tempat di Hotel JW Marriot, Kuala Lumpur, selaras dengan kehendak peruntukan seksyen 17A Akta Mahkamah Kehakiman 1964 -
Court of Judicature Act 1964
17A. Council of Judges
(1) The Chief Justice may convene a Council of all the Judges as and when he deems it necessary but so that there shall be at least one meeting in each year.

Tun Dato' Seri Zaki Tun Azmi 
Aku telah ditugaskan untuk mengambil minit perasmian persidangan yang telah dirasmikan oleh Yang Amat Arif Tun Dato Seri Zaki bin Tun Azmi, Ketua Hakim Negara. Persidangan ini merupakan persidangan beliau yang terakhir selaku Ketua Hakim Negara. Banyak perubahan yang dilakukan oleh beliau terhadap pentadbiran Kehakiman di Malaysia. Secara peribadi, aku merasakan beliau merupakan seorang yang mungkin kasar pada kata-kata tetapi tersangat baik di hati. Segala teguran yang diberi berakhir di situ, tidak dibawa-bawa ke kemudian hari. Masih aku ingat pesanan beliau ketika aku melakukan "courtesy call" sewaktu aku mula-mula memulakan tugas di Mahkamah Persekutuan, sesuai buat pendaftar-pendaftar Mahkamah Persekutuan -
"You must have these two things at your finger tips, the Court of Judicature Act (1964) and Rules of the Federal Court."
Beliau mahu pegawai-pegawai beliau sentiasa mempunyai maklumat yang berkenaan dengan tugas yang dilakukan oleh pegawai tersebut. Aku penah ditanya berkenaan maklumat berkenaan satu kes dan aku jawab "Saya kurang pasti Tun." Jawapan tersebut tidak syak lagi menimbulkan kemarahan beliau seraya beliau menegur "Kamu ni semua tak tahu, pegi panggil Y***(nama bos)". 

Namun beliau sememangnya seorang yang baik hati dan penuh dengan sifat kebapaan apabila diluar tugas rasmi. Sewaktu majlis makan malam di Kuching sewaktu Mahkamah Persekutuan bersidang di Kuching, aku tiba lewat dan beliau memperkenalkan aku kepada Hakim-hakim yang lain "He is our new Registrar". Beliau juga pernah menjemput pendaftar-pendaftar di Mahkamah Persekutuan untuk makan tengahari bersama beliau, dan seorang hakim yang turut serta berkata "Untunglah kamu semua ni, zaman kami dahulu mana ada Ketua Hakim Negara belanja makan tengahari." Sememangnya kami beruntung. Tetapi layanan yang baik di sewaktu makan tengahari tidak menjamin beliau akan berkompromi dengan sebarang kesalahan yang dilakukan di masa akan datang.

Persembahan di Makan Malam Hakim-hakim
Pada malam 8 September 2011, suatu persembahan Tun Zaki The Musical telah dipersembahkan. Persembahan yang diarahkan oleh Yang Arif Datuk Zainun Ali, Hakim Mahkamah Rayuan, nyata telah menggamit suasana makan malam tersebut. Kebanyakan penonton-penonton yang terdiri dari Hakim-hakim dan pasangan mereka kelihatan menikmati persembahan tersebut. Ianya hasil kekuatan skrip yang telah diolah dan diadun oleh Yang Arif Pengarah Muzikal sendiri.

Latihan yang dijalankan beberapa hari sebelum persembahan amat memenatkan. Namun ianya terbalas dengan ucapan tahniah dari penonton-penonton. Kredit seharusnya diberikan kepada Yang Arif Pengarah Muzikal, kerana kami hanya pelaku kepada persembahan yang telah beliau acu, teristimewa bagi Ketua Hakim Negara yang bakal bersara.

Bermalam di JW Marriot Kuala Lumpur
Di antara pengalaman yang tidak akan dilupakan ialah pengalaman bermalam di bilik 1001 JW Marriot Kuala Lumpur, bersama rakan-rakan yang turut terlibat dengan persembahan. Walaupun perangai kami tak sama, tetapi ianya bilik yang ceria. Ceria dan gembira, perkataan yang dapat menggambarkan suasana di bilik itu. Ada di kalangan mereka yang "thoughtful". Begitu serasi dan memahami, cukup dengan pandangan mata tanpa pertuturan, kesimpulan telah kami dapati. Sesudah habis persembahan, kami di hibakan dengan berita yang tidak dinanti, pemergian saudara rapat beliau menghadap Ilahi. Aku turut empati, sekalipun yang pergi itu tidak aku kenali. Aku berdoa semoga rohnya ditempatkan bersama para nabi, siddiqin, syuhada, dan orang-orang soleh di sisi Ilahi. Semoga keluarganya diberkati dan kehilangan itu diganti dengan sesuatu yang lebih baik. 

Ketika aku tiba di rumah, buat pertama kalinya aku terasa janggal sekali. Kehidupan bersendiri yang aku nikmati selama ini tidak terasa begitu seronok lagi. Aku terasa sunyi dan aku berharap untuk berada di bilik 1001 JW Marriot sekali lagi. Semoga kalian semua sentiasa diberkati. 

Terima Kasih Ramadhan

Monday, August 29, 2011

0 comments
Ramadhan, aku merasa perit tatkala engkau ingin pergi. Banyak yang diperolehi dalam sebulan yang singkat ini. Pastinya solat terawih yang tiada dapat aku lakukan pada malam bulan-bulan yang lain, meski aku mampu menunaikannya di malam hari. Berlapar sepertimana insan-insan lain yang diuji ilahi. Bulan yang mendekatkan aku dengan Quran, kalam Allah yang sering aku lupai. Dengan Quran itu, aku bertemu insan-insan lain yang tekun bertalaqqi, rela diperbetulkan ketika mengaji, mengajar kami erti rendah diri. Hadirmu hanya sebulan dan  kini engkau akan pergi. Kerana engkau hanya sebulan, sungguh hati ini merasai betapa sebulan ini aku merasa berteman, meskipun tinggal seorang diri. Pastinya aku akan merindui dan aku sesungguhnya berdoa, semoga kita dipertemukan lagi pada tahun yang mendatang ini, dengan aku masih menghela nafas, dengan kehendak dan izin Ilahi.

Selamat pergi dan semoga kembali, RAMADHAN

Kembali Pulang

Thursday, August 18, 2011

0 comments
What should happen, had happened. Al-Ghazali had once said "the farthest thing from a man is his past." It is so true, we can't even revisit a minute that had left us.

Nevertheless, memory stays. Memory keeps the past alive. Some things/persons are going away and do return back. Some are just not. But when the memory strikes, it will conjure up anything from the past to return back, whether we like it or not. It is then, Kembali Pulang.

Hosting A Berbuka Puasa

Monday, August 15, 2011

0 comments
On 13th August 2011, I have hosted a berbuka puasa at my humble hut at Putrajaya. It was meant for my brethren, graduates of Sekolah Izzuddin Shah 1997-2001. 14 of them were present, reminiscing the old times of breaking fast together.

At noon, Luqman arrived and we promptly went to Pasar Borong Selangor, Seri Kembangan for the raw ingredients. We bought ikan tenggiri, prawn, salad and also herbs and sauce for dressing. Earlier, I already bought meat. We then went back and started cooking.

Chit-chatting while waiting for Maghrib
Posers at the kitchen
The Meals
At 5.30PM, Filhan arrived. then the rest followed. Once azan maghrib resounding in the sky, we started with kurma and murtabak after short supplication, before proceeding to have our Maghrib congregation prayer together, led by Al-Imam Prof Helmi Ismail. We then continued to have our meals.

Maghrib prayer led by Imam Helmi
At last, after waiting for sooo long
The Attendees
At 10.00PM, we moved to Pusat Kejiranan Presint 9, to have our Ping-pong match til 12.00AM. We continued telling stories at Kedai Mamak Berkembar, Presint 9 Putrajaya til 3.30AM, before everybody departed heading back home.

The legendary two

Pros (on the right) facing the losers

The Pros


Menuturkan kata sabar

Tuesday, August 9, 2011

0 comments
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ لِامْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ تَعْرِفِينَ فُلَانَةَ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهَا وَهِيَ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي فَقَالَتْ إِلَيْك عَنِّي فَإِنَّكَ خِلْوٌ مِنْ مُصِيبَتِي قَالَ فَجَاوَزَهَا وَمَضَى فَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ فَقَالَ مَا قَالَ لَكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ مَا عَرَفْتُهُ قَالَ إِنَّهُ لَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَجَاءَتْ إِلَى بَابِهِ فَلَمْ تَجِدْ عَلَيْهِ بَوَّابًا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا عَرَفْتُكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصَّبْرَ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ

Anas Bin Malik R.A telah bertanya kepada seorang wanita dari kalangan keluarganya, "Adakah kamu kenal si fulanah?" jawab wanita tersebut "ya". Maka dia (Anas bin Malik) berkata, sesungguhnya Nabi SAW pernah berjalan dan mendapati wanita tersebut menangis di kubur. Maka sabda baginda "Bersabarlah". Wanita tersebut menjawab "Jauhkan dirimu dari diriku, sesungguhnya kamu tidak menanggung malapetaka yang menimpa aku ini". Baginda  kemudian menjauhinya dan pergi. Maka kemudian lalu seorang lelaki dan bertanya "Apakah yang disabdakan Rasulullah SAW kepada kamu? Wanita tersebut berkata aku tidak mengenalinya. Lelaki tersebut berkata baginda ialah Rasullah SAW. Maka wanita itu pergi ke rumah Rasulullah, didapati pintu Baginda tidak berpenjaga, seraya dia berkata "Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak mengenalimu." Sabda Rasulullah SAW "Sesungguhnya sabar itu pada saat mula-mula ditimpa malapetaka."
Sering kita ucap perkataan sabar. Seperti kata orang, mudah untuk diucap, sukar untuk dibuat. Saat kritikal di mana sabar perlu mengambil tempat ialah pabila kita mula-mula ditimpa bencana atau saat pertama mendengar khabar kurang menyenangkan. Menahan rasa marah yang membuak atau rasa sedih yang bersangatan pada paluan yang pertama itulah yang dipanggil sabar. Apabila marahkan jiran sebelah yang bising, atau kereta kita tercalar, atau terima berita sedih yang tidak dijangka, maka ingatlah kisah Baginda SAW dan wanita di atas, sesungguhnya sabar itu pada saat mula-mula ditimpa malapetaka.

Silence

Thursday, July 28, 2011

0 comments
It has been a while, since the last time I hear
No more greetings, like we are now stranger
Perhaps our pride rises, and it grows bigger
The past remains past, those days when we were together

Life is uncertain, we see hardships and suffering
As new days come, many things are changing
At present we might be different,thus the past seems embarrassing
Blame others not, for we chose the path we are heading

Did attempt to neglect but the thought is there
Try to send it away, but still can feel it in the air
I think the heart do speak, but to make a call I do not dare
This deep quiet remains, hope it doesn't hurt...so i am able to bear.

3.05PM
26.7.2011
ILKAP Bangi


Reunion Sekolah Izzuddin Shah:: Izzuddinians 97-01

Monday, July 25, 2011

0 comments
Tanggal 23 Julai 2011 bertempat di Sekolah Izzuddin Shah, Ipoh, Perak, telah berlangsung Majlis Makan Malam Pasca 10 tahun  dan Sukan Izzuddinians 97-01.

Bersempena pertermuan semula yang gilang gemilang tiada tandingnya itu, satu montaj telah disediakan untuk ditayangkan pada malam tersebut. Disiapkan dalam masa kurang dari 24 jam. Cekidaut-




Lifeguard - a personal story

Wednesday, July 20, 2011

0 comments
"The Prophet said "All things which is not in the state of remembering Allah is futile and neglect, except in four things- [1] a man (walking) between two aims (archery) [2] learning the art of (riding) horse [3] learning how to swim [4] playing with family. (Narrated by Imam Al-Baihaqi)"

I have been thinking for the whole day what to write. Life is not so exciting to tell. The same story of being in the office and lonesome at home. Then this evening, something popped up - LIFEGUARD.

I am a water sapiens (water creature). My parents used to bring my siblings and I go for picnic when we were kids. It develops my interest in water activities.

Butterfly stroke @IIUM Pool
Upon being enrolled as undergraduate at International Islamic University Malaysia, Gombak, I made a visit to the university's swimming pool. It was an Olympic sized pool.There, I started learning how to swim properly and it took me 2 weeks to get how to do breaststroke (kuak dada). I learned it all by myself by imitating others at the pool. I then venture into learning freestyle (gaya bebas) and it took me 1 month to synchronize the movements of parts of the body.

By the time I started swimming there was a lifeguard training meant to recruit new lifeguard, I joined but then quit. It was too early. I just cant make it. But I keep going for swim. On my 3rd year of studies, there was another recruiting. I joined again.

The training took 3 months to complete. The training hours started when the pool is closed for public, roughly from 10.00pm until 1.00am. We did our training even during the month of Ramadhan. Upon completion of the training, there was a test conducted and i obtained my Bronze Medal, from Life Saving Society Malaysia.

Thereafter, I did my part time as lifeguard at IIUM male swimming pool. Majority of the patrons are the students. There are some lecturers and some visitors. Among students, the foreign students made up the majority of the population.

On personal account, i have saved 7 person from drowning, during my short term as lifeguard. I encountered a worst case scenario when the drowned person had no heart beat and had stopped breathing. We try to resuscitate the person. We were anxious and then, we heard  a sound "ALLAH". We were so relieved. It took us 5 minutes doing CPR to the person. Allah blessed us and kept the person lives. The coach then told us "this situation is much more difficult to attend, comparing to the lifesaving competitions we had joined and we should get medal for this." I must agree. I almost cried while doing the CPR, knowing that the person was drowned and might die, while I was on duty. It think that was an invaluable experience as a lifeguard.

I am proud being a lifeguard. I hope other lifeguard will be too. I dedicate this Bryan Adam's song to the  lifeguards all over the world.



Di mana...

Tuesday, July 19, 2011

4 comments





Perjanjian ditakdirkan dengan rahmat Yang Esa. Berlalu juga dengan izinNya. Barang tak terkawal, nak dipaksa tiada upaya. Soalan di ungkap.."di mana?"

Aku sebatang Pen. Memoir Pen Lamy

Tuesday, July 12, 2011

0 comments
Al-kisah ketika aku bertugas di Sungai Petani suatu ketika dahulu, tak mampu aku membaca nota keterangan, barang yang aku nukilkan sendiri pabila menulis dengan ball pen peri Kilometrico atau Faber Castell. Syahdan diadukan hal tersebut kepada bos, moga dikarunia pen dakwat basah bak pen Pilot. Namun adu ku tidak diendahkan. Qalam sedemikian hanya dipakai orang-orang bangsawan yang tinggi derjatnya, tidak bersesuaian dengan empunya tubuh ini.

Peri perit di hati, namun putus asa tidak sekali. Tidak aku alah, jalan penyelesaian harus dicari. Lalu ditemukan aku dengan pen Lamy. Merah berseri menarik hati. Dakwatnya habis, lalu diisi lagi. Tiada lagi nukilan yang tidak difahami. Tulisannya jelas terang sekali.

Arakian ditakdirkan Yang Maha Esa, pernah ia ghaib sekali. Sesal tak sudah, dan berwirid sumpah seranah, kononnya Qalam merah tiada lagi, syak di ambil orang, habis hilang di bawa lari. Syahdan, dengan limpah Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan takdir dan inayahNya, adapun pen itu terselit di dalam fail, tidak lari, hanya bersembunyi dek kecuaian diri sendiri. Syukur alhamdulillah ku panjat ke hadrat ilahi. 3 minggu tanpanya di sisi, bukan mudah rupanya berkerja bersendiri, lebih-lebih lagi bila hendak menandatangani, kerna tanpanya, hambar gerak jari ini.



Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia ,Yang mengajar manusia melalui pena, Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq: 1-5)
                                              

Tips untuk berdebat masalah agama dan persoalan "Aku Pandai Ke?"

Thursday, June 23, 2011

1 comments
ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنْ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ
Dari ibnu Umar katanya, bahawa Nabi SAW bersabda kepada kami sekembalinya dari perang Ahzab "Janganlah seseorang pun dari kamu bersolat Asar melainkan di (penempatan/kampung) Bani Quraizah." Telah masuk waktu Asar di dalam perjalanan. Sebahagian mereka berkata "Kami tidak akan solat melainkan kami tiba (ke kampung Bani Quraizah) dan berkata sebahagian yang lain "Kami akan bersolat (disini, di tengah perjalanan) kerana bukanlah demikian maksud Nabi SAW." Kemudian telah sampai (hal kejadian) itu kepada Nabi SAW dan tidak Baginda mencela mana-mana satu pun dari mereka. (Hadith riwayat Imam Bukhari)

Perjalanan Ke Penempatan Bani Quraizah
Baginda SAW telah memerintahkan beberapan orang sahabat ke penempatan Bani Quraizah (penempatan Yahudi di Madinah) dan Baginda memerintahkan agar mereka bersolat di sana. Di dalam perjalanan, telah masuk waktu asar, maka satu golongan mengambil pendirian untuk tidak bersolat Asar sehingga tiba ke destinasi yang dituju, manakala sebahagian sahabat yang lain mengambil pendirian menunaikan solat ditengah jalan kerana takut waktu asar luput setibanya mereka ke destinasi.

Golongan yang pertama berpegang kepada ucap kata Rasulullah secara zahir seperti yang dilafazkan, lalu tidak mereka solat melainkan tiba di sana. Golongan yang kedua melihat perintah Baginda itu bertujuan agar mereka bersegera dalam perjalanan mereka ke penempatan Bani Quraizah, supaya sempat mereka bersolat asar di sana, lalu mereka menunaikan solat di dalam perjalanan, dan bukannya di penempatan Bani Quraizah.

Apabila Rasulullah mendengar situasi keduanya, baginda tidak mencela mana-mana pun dari kedua-dua golongan sahabat itu atas apa yang telah mereka lakukan.

Siapakah yang lebih betul?
Hadis ini pertama kali di dengar sewaktu mempelajari subjek Islamic Legal System atau nama arabnya تاريخ التشريع الإسلامي (SHA1130) di bawah tunjuk ajar Ustaz Nushi Mahfodz di Kuliyyah Undang-undang Ahmad Ibrahim, UIA. Kali kedua di dalam pengajian subjek Asbab Ikhtilaf اسباب الختلاف (SHA 4280A) di bawah tunjuk ajar Dr. Said Boheraoua. (*sejarah pengajian hadis ini)

Ketika membincangkan hadis ini, Dr Said menyatakan tidak benar sekiranya ada ilmuwan yang cuba menyimpulkan keputusan yang manakah lebih baik, kerana Baginda SAW sendiri tidak mencela mana-mana dari kedua pihak tersebut dan tidak baginda nyatakan keputusan suatu pihak lebih baik dari keputusan pihak yangs satu lagi. Sekiranya ada pendirian yang salah, nescaya Baginda SAW akan menegur oleh kerana Baginda tidak akan membiarkan sahabatnya di jalan yang salah.

Contoh Klasik Perselisihan Pendapat.
Contoh ini ialah contoh klasik bagaimana perselisihan pendapat mengenai bicara Nabi SAW yang terjadi ketika Baginda masih hidup. Tidaklah begitu aneh sekiranya lebih hebat perselisihan pendapat itu dikala baginda sudah wafat. Malah individu yang mendengar sendiri kata-kata tersebut dari Nabi SAW juga tidak wujud. Yang wujud hanyalah buku-buku yang terkandung sekalian hadis-hadis dan tidak semuanya dikupas dan diterangkan sendiri oleh periwayatnya. 

Oleh yang demikian, perselisihan pendapat itu hampir pasti kewujudannya. Namun yang penting adab dalam menanganinya. Dalam sedar atau tidak, pengikut kepada "Mujaddid ummah" yang ingin ingin kembali kepada Quran dan Sunnah itu juga tak mahir meneliti dan mengistinbat hukum dari kedua, dan walaupun di dalam kuliah mereka mendengar ayat-ayat suci dan hadis dibacakan, mereka tidak ingat nas yang dibaca itu. Yang mereka ingat ialah kesimpulan yang dibuat gurunya itu. Itu juga taqlid, macam juga orang-orang kampung yang dituduh berbuat bidah.

Tips-tips Berguna...
  • Kepada mereka yang mula mendalami ilmu agama, pastinya akan berjumpa dengan berbagai-bagai perselisihan pendapat di kalangan ulama. Jangan terlalu teruja apabila terjumpa hadis yang menyalahi amalan atau ajaran Ustaz-ustaz kita, lalu kita kata Ustaz-ustaz itu sesat, lalu kita cela amalan itu, yang kononnya kita ingin kembali kepada Quran dan Sunnah, dan ingin mentajdidkan ummah. Slogan tersebut secara tidak langsung membuat kita perasan pandai dan menuduh ulama terdahulu beramal dengan amalan bidah yang menyalahi sunnah (yang mana perbuatan itu tidak elok ye). Ada baiknya diselidik dahulu dalil-dalil bagi amalan itu, supaya tidak kita mencela orang lain, bukan kerana mereka yang silap tetapi hanya kerana anda yang jahil.
  • Jangan juga kita lupa bahawa Sahih Imam Bukhari dan Sahih Imam Muslim itu bukannya semalam ia dibukukan dan anda bukan juga orang pertama yang mempelajarinya. 
  • Jangan juga perasan bila membaca kata-kata Imam Syafie R.A "Sekiranya sahih sesebuah hadith, itu adalah mazhabku." Kata-kata itu ditujukan buat mereka yang mempelajari Al-Quran, Hadith, alim dalam ilmu-ilmu instinbat seperti asbabun nuzul, asbabul wurud, ilmu bahasa Arab dan sekalin qawaid dan balaghahnya, juga mahir dalam ilmu Usul Fiqh lalu mampu mereka mengistinbat hukum dari kedua kalam suci itu. Anda tahu ke?
  • Sekiranya anda masih membaca terjemahan Quran atau terjemahan Sahih Bukhari dan sekalian sunan yang lain, samada terjemahan ke Bahasa Melayu atau Bahasa Inggeris, anda sebenarnya memahami ayat-ayat dan hadith-hadith itu di atas olahan orang lain, kerana setiap penterjemah akan berbeza dalam penggunaan perkataannya. Jangan lekas mendabik dada bahawa anda berpegang kepada Quran dan Sunnah, sedangkan anda tidak mampu membaca, bertutur dan memahami bahasa Arab, padahal kedua-dua sumber syariat itu di dalam bahasa Arab. 
  • Resam pembawa ilmu itu seperti resamnya padi, lagi berisi lagi menunduk. Kalau tidak tunduk-tunduk, mungkin anda masih kurang berilmu. 

Lalu sila jawab kepada persoalan pada tajuk post ini "aku tak pandai rupanya."



Kenduri dan Kahwin

Sunday, June 12, 2011

3 comments
Musim cuti sekolah juga dikenali sebagai musim kahwim. Baru-baru ini aku telah menghadiri beberapa kenduri kahwin, seperti kenduri Tuan Abdullah Siddiq, Majistret KL, Fairuz Hamidon, rakan sekolah menengah dan faisal arbain, rakan sekolah menengah. 

Dalam sebulan lepas, sepupu emak aku menikah di Masjid Tapah. Maka berbondong-bondonglah saudara-maraku datang. Tak kurang juga pakcik-pakcik yang sudah lama tak aku jumpa, yang dahulunya menyaksikan aku bermain di masjid Tapah masa kecik-kecik. Dalam kemeriahan yang begitu, tiba bapa aku menyapa "Along, ramai yang tanya abah, bila pulak anak cikgu Rosli nak menikah" zapppp soalan itu menyentap jiwaku. Cikgu Rosli Bin Mohd Arshad merupakan seorang yang sangat sejuk (cool) pada bab jodoh anak-anak beliau. Bondaku pernah bercerita yang ayahandaku pernah membunyikan (sound) bondaku supaya jangan sibuk mengkenen-kenenkan aku. Biar dia pilih sendiri kata ayahanda. Namun soalan maut itu telah keluar dari mulut beliau, mungkin tiba masanya untuk aku lebih serius dalam perkara ini. Lebih menekan lagi apabila aku adalah cicit yang paling sulung dalam salasilah sebelah ibuku. Mmm..nanti ade jodoh ade la ye abah~!

Dan juga mereka (Ibadurrahman) berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami, berilah kami isteri-isteri dan zuriat dari keturunan kami yang menyejukkan hati melihatnya, dan jadikanlah kami ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa.
(al-Furqan:74)
Hakcipta terpelihara - Noor. Powered by Blogger.